JpegMerubah wajah pendidikan di negeri tak henti-hentinya dilakukan. Berbagai upaya dan cara terus dikedepankan. Satu sisi, mengurus pendidikan harus menyedot anggaran yang kian besar, namun pada sisi lain dukungan dana besar tidak dapat menjamin  tercapainya tujuan dan sasaran pendidikan yang berkualitas secara akademik tetapi harus pula melahirkan keseimbang dengan kualitas sikap dan perilaku generasi bangsa.

Tuntutan kualitas pendidikan yang diimbangi kualitas anggaran tentu patut diakui semua pihak bahwa baik pemerintah dan para wakil rakyat, dari pusat hingga daerah telah komit mewujudnyatakan hal itu. Bicara bagaimana pendidikan yang diproses saat ini bisa melahirkan manusia-manusia yang mana di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki itu juga tersimpan karakter sikap, perilaku dan perbuatan yang seimbang harus diakui masih menyimpan sejumlah tanya. Sebab membangun pendidikan yang berkarakter itu sama dengan bagaimana upaya untuk merubah sikap atau perilaku seseorang ke arah yang sangat baik, baik, cukup baik atau kurang baik sebagai mana diamanatkan dalam penilaian sikap Kurikulum 2013 atau disingkat K13 yang dijalankan sejumlah guru pada sejumlah sekolah di Kota Kupang sebagaimana pula daerah lain di Indonesia.

Menyikapi fakta sosial, tak sedikit orang begitu mudah terlibat  dalgambar5am peristiwa kelam. Mulai dari pelaku teror bom dan bom bunuh diri, pelaku tindakan asusila, kekeran dalam rumah tangga, pelaku demonstrasi anarkis, tersangkut korupsi, panjang tangan dan sejumlah tindakan lain yang pada dasarnya berada di luar norma adat dan budaya serta aturan hukum yang ada.

 

Dari sejumlah peristiwa yang ada setidaknya melahirkan pertanyaan, “Mengapa itu bisa terjadi ? “ Dan siapakah yang salah atau disalahkan ? “Apakah salahnya para penegak hukum ?”Apakah salahnya pemerintah ?” Apakah wakil rakyat ? “Apakah para akademisi ?”Apakah salah para guru ? “ Apakah salah orangtua di rumah, ataukah itu salah para pemimpin umat ?”.  Tentu menjadi refleksi kita masing-masing sesuai peran yang ada pada kita.

Bila pemerintah sigap melakukan dan respek terhadap pembangunan fisik seperti gedung pencakar langit, jembatan penghubung antar privinsi seperti di kalimantan, dan bentuk-bentuk  pembangunan fisik lainnya, lalu bagaimana dengan nasib anak bangsa yang saat ini yang masih berada pada tataran kebutuhan membutuhkan jamaan dan sentuhan tangan perhatian orang lain dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangannya ke arah kedewasaan ? Agar ia benar-benar dewasa dari sisi  ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya serta dewasa dalam bersikap serta bertindak sesuai norma-norma dan aturan-aturan  hukum yang baik untuk dirinya dan juga baik dirasakan orang lain.

 

Guru harus tabah

gambar2

Merubah sikap mental para pelaku kejahatan atau para pelaku korupsi di negeri ini adalah tugas para lembaga dan atau institusi penegak hukum, namun untuk merubah sikap dan perilaku generasi muda sebagai masa depan bangsa merupakan tugas dan tanggung jawab guru. “Bapak dan Ibu guru memang harus tabah menghadapi berbagai perilaku anak,” ucap  Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Kupang, Drs. Jerhans Ledoh tat kalah beliau berperan sebagai pemateri pada kegiatan workshop  yang mengusung tema “Kemitraan Keluarga, Masyarakat dengan SMK Negeri 6 dalam Penguatan Ekosistem Pendidikan Berbasis Karakter”.

Tabah merupkan sebuah kata yang tak asing diucap setiap orang. Namun kata ini memiliki makna yang luar biasa bagi sebagian orang yang ingin memaknai dalam setiap aktivitas kehidupan. Semua kita paham bahwa makna kata tabah berarti tidak mudah putusasa bila menghadapi kesulitan atau setiap tantangan hidupnya. Dalam konteks tugas dan tanggungjawab seseorang, seperti seorang guru, benar bila harus tabah menghadapi berbagai bentuk sikap dan perilaku siswa. “Bapak-Ibu guru jangan cepat memberikan reaksi apalagi memfonis anak didik bila anak didik datang terlambat, atau tidak mengerjakan tugas,” ucap Jerhans Ledoh. “Bila anak tidak kerja PR (pekerjaan rumah), panggil dia baik-baik. Tanya dia baik-baik. Pasti dia memberikan alasannya. Harus ada tahapan-tahapan cara yang bapak-ibu tempu untuk merubah sikap anak didik. Bila satu kali belum, kita lakukan kedua kali, bahkan sampai ketiga kali,” ucap Ledoh di hadapan puluhan orangtua siswa serta ratusan siswa yang hadir pada kesempatan itu.

gambar6Apa yang disarankan Jerhans Ledoh, tentu menjadi bahan refleksi bagi bapak dan ibu guru tat kalah dalam menghadapi setiap anak didik yang bermasalah dalam belajar? Jawabannya adalah sangat tergantung pada refleksi pengalaman belajar-mengajar dari masing-masing guru. Setidaknya ada beberapa tipe belajar-mengajar guru. Ada guru yang mengutamakan keprofesionalan dari sisi penerapan kompetensi pengetahuan, tetapi tak peduli dengan sikap malas dan pelanggaran aturan lain yang dialami anak didik. Ada ada  tipe guru yang bersikap acuh  saja kepada siswa. Siswa mau pintar atau bodoh bukan urusannya. Yang penting gurunya siap perangkat pembelajaran. Dia kompeten juga Disiplin. Ada juga tipe sebagian guru yang disiplin, menguasai bidang keahliannya,  dan memberikan penilaian terhadap hasil belajar siswa secara obyektif. Obyektif menurutnya adalah nilai jelek atau nilai sangat baik yang dialami siswa itu yang dia berikan. Tidak ada kompromi. Jika dia sudah bilang A tidak bisa B. Ada juga tipe guru yang perangkat pembelajarannya carut-marut, masuk kelas senin-kamis, apalagi dengan anak  sikap anak didik sama sekali tidak ambil pusing. Tetapi ada juga sebagian guru memang memang memiliki tipe guru yang kompeten, disiplin, dan penuh perhatian pada anak didik. Nah sekarang tinggal bagaimana kita memilih yang terbaik yang sesuai dengan misi pendidikan bangsa yang berkarakter.

 

Budayakan Cium Tangan

Pentingnya pendidikan berkarakter tentu mengandung arti yang esensi. Kata berkarakter itu sendri terdiri dari dua unsur yaitu imbuhan ber- dan kata dasar karakter. Ber- yang berarti memiliki atau mempunyai atau mengenakan, memakai. Sedangkan karakter itu sama dengan sikap yang baik atau positif yang dimiliki dalam diri seseorang. Jadi berkarakter memiliki arti sebagaimana di atas. Sedangkan makna yang akan lahir sangat tergantung konteks penggunaanya dalam kalimat.

Jpeg

Sebelum kegiatan belajar mengajar

Karena itu dalam konteks perubahan sikap dan tingkalaku anak didik di sekolah setidaknya menuntut perhatian para guru untuk menjadikan lembaga pendidikan itu sebagai rumah tangga. “Budayakan cium tangan,” pinta Kepala Dinas PPO Kota Kupang, Drs. Jerhans Ledoh kepada para bapak dan ibu guru yang hadir dalam workshop bersama siswa dan puluhan orangtua yang hadir.  Ia  mencermati bahwa tugas guru di sekolah sangat penting dalam membangun serta menumbuhkan sikap anak didik yang positif dalam mendukung kompetensi akademiknya selama tiga tahun di SMK. Ia pun mengedepankan sebuah contoh sebagaimana yang keluarganya alami dalam menanamkan nilai-nilai kekeluargaan yang dibangun terhadap anak-anaknya di rumah. “Saya punya anak laki-laki bungsu di rumah, setiap hari dikasih uang dua puluh ribu. Sebelum keluar dari rumah hendak berangkat ke sekolah selalu mencium tangan. Bahkan dia cari saya, sekalipun saya di kamar mandi, dia harus cium tangan saya baru berangkat ke sekolah,” kisah Ledoh.

Mencium tangan itu hal yang biasa. Tetapi pertanyaannya, apakah semua orangtua di rumah sudah benar-benar memberikan perhatian terhadap anaknya dengan melakukan hal sebagaimana yang dicontohkan keluarga Bapak Jerhans Ledoh? Jawabannya ada pada setiap orangtua di rumah. Yang pasti bahwa perhatian pada anak tidak saja mempersembahkan pada anak sejumlah materi tetapi yang tak kalah penting perhatian orangtua agar bagaimana anak memiliki budipekerti yang baik. “Biasanya bila ada seseorang teman atau kenalan bertemu kita, pertanyaan yang paling pertama muncul pasti, “Anak buah ada berapa? Lalu selanjutnya  ditanya lagi, “ Su sekolah ?” Orang tidak perna bertanya, “Bapak punya rumah berapa atau mobil berapa?” kisah Ledoh.

Lantas pertanyaanya, “Bagaimana dengan lembaga pendidikan SMK Negeri 6 Kota Kupang sendiri soal budaya cium tangan. Realita tak dapat dipungkiri, bahwa masih 90 persen guru dan pegawai SMK N 6 Kota Kupang belum menerapkan budaya itu atau  hanya 10 persen guru yang membudayakan cium tangan dengan para anak didik.  “Generasi sekarang, kalau kita hanya buat lewat omong-omong, nasihat-nasihat, kata-kata lembut, susah mereka terima. Saat kita bicara mereka diam, seolah-olah mereka dengar dan mau ikut, tetapi besok mereka buat lagi.  Karena itu kita harus tunjukan pada mereka, kita harus buat. Bahwa yang namanya cium tangan itu seperti ini. Dan ini yang saya lakukan di RPL sejak saya guru RPL dan dipercayakan  sebagai Kapro. RPL hingga saat ini,” tutur Syufiyanto Minggele, S.Kom, Kapro. RPL SMK Negeri 6 Kupang usai kegiatan tersebut.   Sebagaimana pengalaman Syufyanto bahwa cium tangan wajib dilakukan siswa didikannya di RPL saat  masuk kelas dan keluar kelas.  “Setiap kali kita KBM baik memberikan teori maupun saat praktik di lab, setiap siswa wajib cium tangan bapak atau ibu guru, saat masuk dan keluar ruang kelas,” tuturnya.

Yanto juga mengharapkan agar para staf guru dan pegawai yang lain pun berlahan-lahan mendukung gerakan budaya cium tangan. “Anak-anak kami ini tidak saja menghargai atau menghormati sesama yang ada di  RPL, tetapi dengan bapak dan ibu guru yang lain juga kalau mengajar di kelas mereka ketika mengakhiri KBM dengan sendirinya mereka bergegas mencium tangan bapak atau ibu guru yang mengajar mereka,” tutur Yanto.

Cium tangan untuk menumbuhkan perilaku baik atau positif bagi anak didik sangatlah wajar. Jangan cium sembarangan tangan milik orang lain yang tidak pada tempatnya.  Cium tangan yang signifikan dengan pendidikan menjadi hal prioritas dalam segalah aspek kehidupan saat ini, maka  untuk mewujudkannya tentu semua pihak harus bergandeng tangan dan bahu membahu sesuai peran masing-masing secara bertanggung jawab.  Menanggapi hal tanggung jawab lembaga terhadap budipekerti anak didik, secara kelembagaan, SMKN 6 Kota Kupang, walaupun baru berdiri tahun 2003 silam, secara akademik sudah menamatkan siswa setiap tahun hingga tahun 2015 mencapai 100 %.  “Secara lembaga kami terus melakukan  upaya-upaya untuk mencapai pada harapan bersama baik itu kualitas akademik maupun kualitas budipekerti anak didik,” jelas Kepala Sekolah SMKN 6 Kota Kupang, Yonas Hamma, S.Pd,MM, Semoga. Winibaldus Gampu.

 

 

 

Iklan